Diskusi dan Peluncuran Buku "Islam, Minorities and Identity in Southeast Asia" karya Dr. Ahmad Suaedy berlangsung di Japan Foundation, Senin 3 September 2018. Buku ini berisi studi komprehensif mengenai minoritas muslim di Asia Tenggara seperti Thailand, Filipina, Singapura, Myanmar, negara bagian Serawak di Malaysia, dan provinsi Bali di Indonesia.

Selain penulis, diskusi juga menghadirkan tiga pembicara, yaitu cendekiawan muslim Prof. Dr. Azyimardi Azra, guru besar Chuo University Prof. Dr. Hisanori Kato, dan direktur Wahid Foundation Yenny Zannuba Wahid.

 

Pembicara diskusi: Prof. Dr. Azyumardi Azra, Yenny Zannuba Wahid, Prof. Dr. Hisanori Kato, dan Dr. Ahmad Suaedy (Foto: Japan Foundation)

 

"Buku ini memberikan gambaran kelompok minoritas yang cukup komprehensif," kata Azyumardi Azra di Gedung Summitmas 1 Lt. 2, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Selatan. Azyumardi membandingkan konversi massal atau pindah agama yang terjadi di Amerika Latin dan Asia Pasifik. Di Amerika Latin, konversi massal dengan pemaksaan sehingga terjadi perlawanan. Sedangkan di Asia Pasifik, penyebaran agama pada umumnya berlangsung secara damai. Termasuk di Kepulauan Nusantara pada abad 12, 13, dan 14 hingga kemudian mencapai puncaknya, menemukan momentum baru. Dalam keragaman yang terjadi kini, guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini berharap dialog-dialog antaragama bisa membangun persahabatan.

Menurut Prof. Dr. Hisanori Kato, buku ini tidak sekadar memberikan analisis politik, tetapi juga sosiologis antropologis. Kato menekankan buku ini penting untuk rujukan riset akademis maupun riset general. Buku ini membuatnya berpikir mengenai mentalitas minoritas. Menjadi minoritas seringkali sangat sulit karena mengalami berbagai diskriminasi. Dengan memahami akarnya diharapkan mendorong orientasi memelihara kerukunan antara minoritas dan mayoritas. Menjaga tradisi lokal dan peran pemerintah sangat penting dalam membangun dan merawat kerukunan.

Yenny Wahid menyampaikan salah satu faktor penyebab radikalisme adalah rasa putus asa terhadap masa depan yang dialami oleh suatu komunitas atau wilayah. Oleh karena itu perlu untuk memahami konteks lokal yang terjadi. Sehingga meskipun banyak perbedaan dalam masyarakat, bisa terjalin kehidupan bersama yang harmoni. Cakupan buku ini cukup luas. Putri Gus Dur ini menilai para pembuat kebijakan dan Kementerian Luar Negeri di kawasan Asia Tenggara perlu membaca karya ini. (NLM/Inklusif)

Titik Rawan Delik Agama dalam RUU KUHP

Subhi Azhari Baru-baru ini Komnas Perempuan menggelar diskusi daring terkait rencana DPR mensahkan RUU Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP). RUU ini nampaknya menjadi salah satu target pemerintah untuk segera...

Inklusi Pendidikan bagi Penghayat Kepercayaan

Oleh Subhi Azhari Pada akhir Oktober hingga pertengahan November 2019, Yayasan Inklusif menyelenggarakan penelitian dengan tema “Pelayanan Publik Bagi Kelompok Keagamaan Marjinal di Indonesia”. Penelitian ini dilaksanakan di enam wilayah...