Diskusi publik bertema “Menyuarakan Islam Toleran dan Damai” diselenggarakan atas kerjasama Yayasan Inklusif, portal SekaliLagi.id, dan Gusdurian Depok di Pondak Laras, Jl. Akses UI Depok, pada Sabtu 30 Juni 2018.

Acara ini sebagai respon atas fenomena meningkatnya kekerasan dan intoleransi atas nama agama di Indonesia. Di antaranya meledaknya sejumlah bom di gereja di Surabaya, ujaran kebencian terhadap mereka yang berbeda, dan ancaman terhadap kelompok rentan. Praktik intoleransi dalam masyarakat berangkat dari sikap eksklusif dalam beragama. Pelaku kekerasan atas nama agama sedikit jumlahnya bila dibandingkan dengan jumlah total muslim di Indonesia. Namun, suara mereka begitu keras hingga menenggelamkan suara Islam yang toleran dan damai. Oleh karena itu, penting bagi aktivis muslim yang paham merawat kerukunan lintas iman dan masyarakat umum duduk bersama mendiskusikan narasi Islam ramah yang sebangun dengan cita-cita demokrasi di Indonesia.

Menurut Gamal Ferdi, salah satu pendiri Yayasan Inklusif, kegiatan diskusi publik ini merupakan diskusi yang menarik karena berusaha mengampanyekan dan mempromosikan islam yang damai, toleran dan inklusif. Inklusifitas, menurutnya menjadi penting mengingat fenomena eksklusifitas keberagamaan semakin menguat.

Pernyataan Gamal senada dengan Pipit Aidul Fitriana, salah satu narasumber dari Maarif Institute. Bagi Pipit, fenomena radikalisme dan intoleran secara khusus di Jawa Barat sekarang menguat dan mulai merambah anak muda. Temuan penelitian yang dilakukannya bersama Maarif Institute juga menunjukkan fenomena intoleransi di kalangan anak muda yang mengkhawatirkan.

Masalah-masalah di atas dicoba dicarikan solusinya dalam diskusi yang berlangsung di restoran yang bernuansa saung di Kota Belimbing. Dihadiri sekitar 65 peserta dari berbagai organisasi dan komunitas lintas iman di Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Fenomena ini, mengutip Subhi Azhari, Presidium Gusdurian Depok, disebabkan antara lain oleh kurangnya pengetahuan keagamaan masyarakat. Selain itu, kecenderungan beragama yang ingin membenarkan diri sendiri selalu menegasikan kelompok lain di luar dirinya.

Menurut Savic Ali, tokoh muda NU dan Direktur NU ONLINE, untuk menghadapi fenomena konservatisme dan intoleransi ini, kita perlu memperkuat dan meningkatkan kampanye Islam damai di media sosial dan internet. Sebab, selama ini kita sangat sibuk membangun tembok dan pagar, tapi melupakan membangun jembatan.

Selain diskusi publik, Yayasan Inklusif, Gusdurian dan Sekaliagi.id juga bergiat dalam isu-isu toleransi dan penerbitan, khususnya di Depok dan Jawa Barat. (NLM-LT/Inklusif)

Titik Rawan Delik Agama dalam RUU KUHP

Subhi Azhari Baru-baru ini Komnas Perempuan menggelar diskusi daring terkait rencana DPR mensahkan RUU Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP). RUU ini nampaknya menjadi salah satu target pemerintah untuk segera...

Inklusi Pendidikan bagi Penghayat Kepercayaan

Oleh Subhi Azhari Pada akhir Oktober hingga pertengahan November 2019, Yayasan Inklusif menyelenggarakan penelitian dengan tema “Pelayanan Publik Bagi Kelompok Keagamaan Marjinal di Indonesia”. Penelitian ini dilaksanakan di enam wilayah...