Yayasan Bani Abdurrahman Wahid (YBAW) bekerjasama dengan lembaga Inklusif mengadakan Workshop Nasional "Penyusunan Modul Revitalisasi Tradisi untuk Harmonisasi Sosial" di Grand Cemara Hotel, Jakarta, 27-28 September 2018

Acara dihadiri oleh peserta undangan dari berbagai lembaga yang selama ini banyak bergelut di isu kebudayaan. Di antaranya Desantara, Abdurrahman Wahid Centre, Gusdurian Bogor, Gusdurian Depok, dan Lakpesdam Papua.

 Tujuan kegiatan ini secara umum:

  • Memetakan pola dan pendekatan revitalisasi tradisi untuk harmoni dan inklusi sosial. 
  • Menjaring masukan dari para ahli substansi modul.
  • Menetapkan outline dan penanggungjawab modul. 

Pemateri workshop adalah komandan Gusdurian Alissa Wahid, Hikmat Budiman, dan Ahmad Suaedy. Menurut Alissa, kampanye Islam damai jangan hanya berhenti pada bagaimana menyampaikan, tetapi juga penting disusun modalnya. Alissa mengingatkan bahwa nilai dominan paling tinggi di Indonesia adalah nilai tradisi.  Seperti dicontohkan jaringan Gusdurian yang telah menyusun konsep-konsep nilai demokrasi. Misalnya, menggali apa yang membuat orang Poso bangga menjadi orang Poso. "Tradisi bisa menjadi modal sosial untuk melakukan perubahan Indonesia dalam mendorong harmoni sosial," tegas putri Gus Dur. 

 

Hikmat Budiman menegaskan bahwa tradisi merupakan sesuatu yang dinamis.  Bisa diwariskan, bisa juga dicampakkan. Hikmat melacak tradisi masa lampau, zaman Sutan Takdir, tradisi dianggap sebagai belenggu. Pra Indonesia dianggap zaman kegelapan, sehingga tradisi menjadi beban. 

Oleh karena itu, perlu bersikap kritis terhadap tradisi. Revitaliasi itu menyuntikkan semangat hidup terhadap sesuatu yang lemah. Merujuk pada Kuntjoroningrat, selama 3 dekade, tradisi dianggap menghambat, harus diperbaharui. Tradisi pada awalnya identik dengan kegelapanyang menghambat. Namun, kini dinamikanya lebih luas. 

Hikmat menceritakan munculnya intoleransi di Jogja. Pergolakan di Jogja mulanya selalu lawan ke atas, mahasiswa lawan ABRI. Jogja saat itu semakin toleran karena terus mengajari warganya berinteraksi dengan berbagai beragam pendatang. Lalu, Jogja menjadi kota intoleran, apa yang terjadi? Lahan banyak yang beralih fungsi menjadi area parkir dan hotel, ada arus masuk yang begitu banyak. Arus modal dan orang. 

Suaedy mencontohkan nilai tradisi di suku Badui. Sebanyak 60% Tanah Badui berupa hutan lindung, selebihnya pertanian dan pemukiman. Pemukiman selalu mengumpul satu area. Tanah pertanian tidak boleh buat pemukiman. Mereka menyimpan uang buat beli tanah di luar dan hutan tak boleh digunakan. Mereka memprediksi kebutuhan setiap tahun. Ketahanan pangan paling akurat di Badui. Ketika kemudian bicara harmoni, muncul gejala baru seperti intoleransi, radikalisme dll. Revitalisasi tradisi mewarnai dinamisasi masyarakat dan mewaspadai arus-arus baru. 

Dari workshop ini diperoleh konsep yang lebih jelas dan strategi pendekatan yang akan dipraktekkan di sejumlah Kota: Singkil, Sampit, Kuningan, Bogor, dan Fak-Fak. Selain itu, perlunya mengenali modalitas serta problem dan tantangan masing-masing wilayah. (INKLUSIF/NLM)

Titik Rawan Delik Agama dalam RUU KUHP

Subhi Azhari Baru-baru ini Komnas Perempuan menggelar diskusi daring terkait rencana DPR mensahkan RUU Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP). RUU ini nampaknya menjadi salah satu target pemerintah untuk segera...

Inklusi Pendidikan bagi Penghayat Kepercayaan

Oleh Subhi Azhari Pada akhir Oktober hingga pertengahan November 2019, Yayasan Inklusif menyelenggarakan penelitian dengan tema “Pelayanan Publik Bagi Kelompok Keagamaan Marjinal di Indonesia”. Penelitian ini dilaksanakan di enam wilayah...