Oleh M. Subhi Azhari*


Dalam satu diskusi dengan sejumlah kyai dan pimpinan pesantren se-Jawa Barat yang diselenggarakan Kementerian Agama RI beberapa waktu lalu, penulis mendapat pertanyaan, "Mengapa harus ada istilah Islam moderat? Itu hanya akan mengkotak-kotakkan umat? Bukankah Islam itu harusnya satu?" Bagi penanya, istilah ini dapat menambah kebingungan umat di bawah.

Menanggapi pertanyaan tersebut, penulis mengatakan bahwa istilah Islam moderat adalah istilah akademis yang tidak perlu menjadi sumber kerisauan para pimpinan pesantren. Karena substansi dari istilah tersebut sebenarnya sudah diterapkan di sebagian besar pondok pesantren di Indonesia. Bagi penulis, penanya dan para pimpinan pesantren tidak harus terjebak pada simbol atau nama, selama esensi yang diajarkan sama maka itulah Islam moderat. Esensi yang dimaksud tersebut adalah Islam yang menjauhkan diri dari sikap ekstrim dalam beragama, tidak mudah menghakimi sikap dan pandangan keagamaan orang lain serta Islam yang menghargai kearifan dan tradisi lokal sebagaimana halnya Islam di berbagai belahan dunia lain. 

Bagi penulis, munculnya istilah Islam moderat seperti halnya istilah "Islam Nusantara" belakangan ini bukanlah bertujuan menambah kotak-kotak umat Islam, melainkan sebagai konsekuensi logis dari fitrah Islam sebagai agama yang luwes dan dapat diterima oleh kemajemukan budaya dan peradaban manusia. Kedua istilah tersebut meski bukanlah madzhab baru dalam islam, tetapi tidak ada bedanya dengan konteks kemunculan aliran, organisasi, paham bahkan madzhab-madzhab Islam pada abad pertengahan. Kemunculannya merefleksikan kebutuhan umat untuk memahami ajaran islam secara utuh tidak hanya dalam wilayah dogmatis teologis, melainkan juga sosio, ekonomi, politik, dan kultural setempat dalam hal ini Indonesia. Ujian yang paling sahih apakah istilah tersebut benar atau salah hanyalah sejarah, seperti halnya banyak aliran dan madzhab dalam Islam yang punah karena tidak mendapat ceruk pasar yang akan merawat dan mewariskannya ke generasi berikut. Islam moderatpun tidak akan bisa lolos dari hukum besi tersebut.

Kita bisa mengambil contoh "khawarij" sebagai salah satu aliran tertua dalam Islam nyaris menghadapi kepunahan karena tidak lolos uji pasar tersebut. Meski hingga kini ada saja umat Islam yang memiliki pandangan seperti kaum khawarij, seperti halnya al Qaida dan ISIS, namun sebagai sebuah paham keagamaan ia ditolak karena dinilai tidak sejalan dengan ajaran Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Ia dinilai sebagai paham yang justru menampilkan Islam dengan wajah bengis dan tidak ramah. 

Fakta tersebut menunjukkan bahwa salah satu prasyarat suatu paham dapat bertahan lama adalah ia harus inklusif yakni kemampuannya untuk terbuka terhadap kebhinekaan baik di internal Islam sendiri maupun ke luar.  Ia tidak hanya harus bisa menerima melainkan juga berinteraksi dan bekerjasama dengan paham bahkan agama lain tanpa harus mengerdilkan keyakinan diri sendiri maupun orang lain. Bahkan ia harus mampu melampaui sekat perbedaan ketika berbicara tentang sesuatu yang lebih besar seperti persoalan-persoalan kemanusiaan: kelaparan, kebodohan, kemiskinan dan penindasan yang tidak mengenal perbedaan paham, aliran bahkan agama.

Sebaliknya, ketika paham tersebut menjadi eksklusif, tidak mampu memahami diri sebagai bagian dari kemajemukan, bahkan menolaknya, maka masyarakatpun akan monolaknya karena ia secara tidak langsung menjadi ancaman bagi pihak lain. Begitupun ketika paham tersebut tidak peduli terhadap persoalan-persoalan sosial, kemasyarakatan dan kemanusiaan dan hanya sibuk dengan ritual dan kesalehan individu, maka secara tidak langsung ia telah memutup ruang pergaulan dan hanya menunggu waktu untuk kepunahan.

Pertanyaan bagi para pengusung Islam moderat, apakah ia akan mampu bertahan dan merebut simpati umat Islam di Indonesia? Hemat penulis, mereka hanya harus terus bekerja, sementara sisanya, waktu yang akan menjawab.

*Penulis adalah Direktur Eksekutif Yayasan Inklusif