Dalam upaya menciptakan dan memperkuat ruang aman bagi Kemerdekaan Beragama atau Berkeyakinan (KBB), Sekolah Damai Indonesia (SEKODI) Bandung bekerjasama dengan Yayasan Inklusif dan Bandung Bergerak menggelar program The Journey of Interfaith. Program ini merupakan serangkaian kelas dialog lintas agama dan kepercayaan yang diadakan setiap hari Sabtu sepanjang bulan Agustus 2024. Dengan mengusung tema keberagaman agama di Indonesia,
Dalam program ini, para peserta yang umumnya merupakan orang muda diajak untuk mengenal agama-agama dan kepercayaan yang berbeda melalui dialog langsung dengan pemuka agama di tempat ibadah masing-masing. Kelas dimulai pada Sabtu, 3 Agustus 2024, di Masjid Mubarak Bandung, dengan tema *Mengenal Ahmadiyah* bersama Bapak Denny sebagai narasumber. Selain Ahmadiyah, kelas lainnya membahas tentang agama Buddha, Kristen, dan Penghayat Kepercayaan.
Mengapa Penting?
Menurut Fani, koordinator SEKODI Bandung, program ini sangat penting untuk mempromosikan dialog dan perjumpaan yang aman dan bermakna di antara berbagai kelompok agama. SEKODI Bandung percaya bahwa toleransi saja tidak cukup. “Melalui The Journey of Interfaith, diharapkan peserta dapat memahami dinamika yang dihadapi oleh penganut agama yang berbeda, memperkuat empati, dan meretas prasangka yang masih kerap muncul di tengah masyarakat” papar Fani.
SEKODI Bandung sendiri berupaya mempertemukan kaum muda dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan. “Kami ingin menciptakan ruang dialog yang aman dan bermakna sehingga peserta tidak hanya memahami perbedaan, tetapi juga bisa membangun jembatan perdamaian,” ujar Putri Nabila, fasilitator dari SEKODI Bandung.
Kelas The Journey of Interfaith tidak hanya menghadirkan narasumber untuk memberikan materi tentang ajaran agama, tetapi juga membuka diskusi interaktif. Peserta bebas bertanya mengenai segala hal, mulai dari filosofi agama, kitab suci, hingga diskriminasi yang dialami kelompok-kelompok agama tertentu. Sebagai contoh, dalam kelas Ahmadiyah, salah satu peserta, Yohanes Chrissanto, menyatakan bahwa pertemuan ini membantunya memahami perbedaan yang ada dalam Ahmadiyah dan memperluas pemahamannya terkait ajaran Islam.
William Umboh, seorang guru PAUD yang juga mengikuti beberapa kelas dalam program ini, mengatakan, “Ini benar-benar perjalanan yang unik. Di sini, saya bisa bertemu dengan orang-orang yang mempraktikkan agama dan kepercayaan yang berbeda, yang biasanya tidak saya temui di kehidupan sehari-hari. Dialog yang dibangun benar-benar membuka wawasan saya” jelasnya.
Program The Journey of Interfaith bertujuan untuk mencetak agen-agen perdamaian di kalangan pemuda Bandung. Diharapkan peserta yang mengikuti program ini dapat membawa nilai-nilai perdamaian ke komunitas mereka masing-masing. Selain itu, terjalinnya kerja sama lintas lembaga diharapkan dapat memperkuat upaya memajukan toleransi dan inklusi sosial.
“Kegiatan ini memberikan ruang yang sangat penting untuk bertukar pikiran dan membangun pemahaman. Diskusi lintas agama seperti ini sangat mendesak, apalagi di tengah banyaknya asumsi dan prasangka yang beredar di masyarakat,” ujar Syafira Khairani dari INFID, salah satu peserta kelas.
Walaupun program ini berjalan relatif lancar, SEKODI Bandung sempat menghadapi tantangan dalam mempublikasikan kelas Ahmadiyah. Mengingat sensitivitas isu Ahmadiyah di Bandung, publikasi acara ini dilakukan terbatas sebelum acara berlangsung, sebagai langkah mitigasi untuk menghindari potensi gangguan dari pihak-pihak yang tidak diinginkan. Namun, kelas tetap berjalan lancar, dan publikasi dilakukan setelah acara selesai.
Melihat respons positif dari para peserta, SEKODI Bandung berencana untuk memperluas program ini di masa mendatang. Salah satu rekomendasi adalah mengadakan pelatihan mediasi dan resolusi konflik bagi peserta yang sudah mengikuti kelas ini, agar mereka dapat menjadi agen perdamaian yang lebih konkret di komunitas mereka.
Dengan dukungan dari berbagai pihak, SEKODI Bandung berharap The Journey of Interfaith dapat terus menjadi ruang yang aman dan inklusif bagi semua orang untuk belajar, berdialog, dan menciptakan perdamaian di tengah keberagaman agama dan kepercayaan yang ada di Indonesia.


