Pada Kamis, 10 Agustus 2023, Yayasan Inklusif menyelenggarakan kegiatan bertema “Penguatan Peran Ulama Perempuan dalam Penanganan Konflik Berdimensi Keagamaan” di Rumah Makan Thirta Rasa, Sawangan, Depok. Kegiatan ini dihadiri oleh 18 peserta yang merupakan tokoh masyarakat, ulama perempuan, ustadzah, penyuluh agama, serta pimpinan majelis taklim di Kota Depok, Jawa Barat.
Mereka antara lain berasal dari Muslimat NU, Nasyiatul Aisyiyah, Fatayat NU, Pondok Pesantren Ittihadussyubban, Pondok Pesantren Subulussalam, Koperasi Cinta Damai dan lain-lain.
Menurut Direktur Eksekutif Yayasan Inklusif, Muhammad Subhi, Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh situasi dan kondisi di Kota Depok, dengan sejarah panjang sebagai wilayah yang dihuni oleh masyarakat dari berbagai agama, etnis, dan keyakinan, masih kerap menghadapi konflik berdimensi keagamaan yang menurunkan kualitas kerukunan sosial.
“Sejumlah kasus menonjol yang terjadi di kota ini, seperti penyegelan Masjid Ahmadiyah di Sawangan dan penolakan pendirian gereja di Rangkapanjaya Baru, menunjukkan masih adanya kerentanan terhadap konflik keagamaan. Yayasan Inklusif memandang perlu adanya peran kepemimpinan perempuan yang lebih aktif dalam mengatasi isu-isu tersebut” paparnya.
Kegiatan ini menurut Subhi ingin mendorong peran ulama perempuan dalam membangun sikap keterbukaan dan toleransi di tengah masyarakat Depok. “Tujuan spesifiknya adalah untuk melahirkan ulama-ulama perempuan yang memiliki kapasitas, kepekaan, dan komitmen dalam pencegahan konflik di tingkat lokal” lanjutnya..
Acara ini diawali dengan paparan oleh Dahlia Madanih dari Komnas Perempuan, yang menjelaskan tentang “Peran dan Pendekatan Perempuan dalam Mencegah dan Menangani Konflik Berdimensi Keagamaan”. Dalam paparannya, Dahlia menguraikan tentang sejarah terbentuknya Komnas Perempuan dan pentingnya peran perempuan dalam pencegahan konflik.
“Perempuan memiliki peran krusial dalam membangun jaringan sosial, mempromosikan dialog antar kelompok, serta menyebarkan pemahaman tentang toleransi dan keberagaman” papar Dahlia.
Pada sesi tanggapan peserta, kegiatan yang dipandu Ahsan Jamet Hamidi ini dimulai dengan pertanyaan tentang apa yang dipahami peserta mengenai konflik. Beberapa peserta menjelaskan bahwa konflik seringkali dipicu oleh perbedaan pendapat dan minimnya pengetahuan tentang agama lain. Sejumlah pengalaman juga diungkapkan, termasuk persepsi negatif yang muncul pasca peristiwa Bom Bali dan konflik terkait pendirian rumah ibadah di Papua. Salah satu peserta menambahkan, “Minimnya informasi akurat dan adanya stereotip negatif sering kali memperburuk keadaan.” ujar salah satu peserta.
Diskusi dilanjutkan dengan mengeksplorasi peran perempuan dalam mencegah dan menangani konflik. Peserta menyampaikan bahwa perempuan dapat berperan sebagai agen edukasi yang mempromosikan pemahaman lintas agama, menyebarkan informasi yang akurat, serta menjadi advokat untuk perdamaian dan toleransi. Selain itu, perempuan juga dapat bertindak sebagai mediator dalam penyelesaian konflik dan membantu proses pemulihan pasca-konflik.
Dari hasil diskusi, para peserta menyepakati bahwa “penguatan pengetahuan dan kemampuan perempuan dalam menangani konflik berdimensi keagamaan sangat penting,” ujar salah satu peserta. Selain itu, dukungan terhadap jejaring antar kelompok perempuan yang memiliki fokus berbeda juga diperlukan agar terjadi pertukaran pengalaman. Kegiatan ini diakhiri dengan harapan bahwa peran perempuan dalam masyarakat dapat diperkuat untuk membangun kerukunan dan perdamaian di Kota Depok.
Kegiatan ini merupakan hasil kerjasama Yayasan Inklusif dengan Subdit Bina Paham Keagamaan Islam dan Penanganan Konflik Kementerian Agama RI.


