BOGOR – Yayasan Inklusif bersama Gugus Tugas Desa Damai Desa Sasak Panjang menggelar kegiatan Public Awareness bertajuk “Penguatan Kesadaran Publik Dalam Merawat Kerukunan dan Reintregasi Sosial” di Aula Kantor Desa Sasak Panjang, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor, Kamis (27/11/2025).
Kegiatan ini dihadiri oleh puluhan peserta yang terdiri dari unsur Ketua RT, RW, Kepala Dusun, Kader PKK, Posyandu, Karang Taruna, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat. Forum ini bertujuan untuk mensosialisasikan keberadaan Gugus Tugas Desa Damai sekaligus membangun kesadaran kolektif warga dalam mencegah konflik dan intoleransi.
Direktur Yayasan Inklusif, Muhamad Subhi Azhari, dalam sambutannya menekankan bahwa perdamaian bukan hanya soal ketiadaan perang, melainkan kemampuan masyarakat untuk mengelola perbedaan dan masalah sosial secara mandiri. Ia menyoroti peran strategis keluarga.
“Ketahanan desa dimulai dari ketahanan keluarga. Jika keluarga kuat dan peduli, maka desa akan damai,” ujar Subhi di hadapan peserta.
Subhi menambahkan bahwa tantangan hari ini tidak hanya radikalisme, tetapi juga masalah sosial baru seperti maraknya judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol) yang dapat merusak harmoni keluarga dan memicu konflik sosial.
Kepala Desa Sasak Panjang, Ummi Yulaikah, menyambut positif inisiatif ini. Ia menegaskan bahwa Desa Sasak Panjang dengan populasi yang padat dan heterogen membutuhkan mekanisme sosial yang kuat untuk menjaga kerukunan.
“Kami sangat mendukung kegiatan ini karena membantu tugas pemerintah desa. Dengan adanya Gugus Tugas dan kesadaran dari Bapak/Ibu RT dan RW, kita bisa mendeteksi masalah lebih dini sebelum membesar. Sasak Panjang harus menjadi rumah yang aman bagi semua warganya,” tegas Ummi Yulaikah.
Sementara itu, Sekretaris Desa sekaligus Koordinator Gugus Tugas, Iwan, memaparkan bahwa Gugus Tugas yang telah dibentuk bukan sekadar struktur formal, melainkan tim kerja yang siap berkolaborasi dengan warga.
“Gugus Tugas ini ada untuk Bapak Ibu sekalian. Kami berharap RT dan RW tidak ragu untuk berkoordinasi jika melihat potensi gesekan di lingkungannya. Kita selesaikan masalah dengan duduk bareng, dengan dialog,” kata Iwan.
Diskusi berlangsung interaktif dengan banyaknya masukan dari warga. Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Ruliyani, menyoroti pentingnya peran aktif perempuan dalam ruang publik desa untuk menyuarakan perdamaian.
Salah satu tokoh masyarakat yang hadir juga mengapresiasi forum ini sebagai wadah silaturahmi yang produktif. “Kegiatan seperti ini penting agar kita tidak jalan sendiri-sendiri. Antara ulama, umara (pemerintah), dan warga harus nyambung frekuensinya,” ungkap salah satu peserta dalam sesi tanya jawab.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program penguatan kohesi sosial yang didukung oleh Wahid Foundation dan Global Community Engagement and Resilience Fund (GCERF), di mana Yayasan Inklusif bertindak sebagai mitra pelaksana pendampingan di Kabupaten Bogor.


